Turki denganKrisis Libya

Penaindonesia.co.id-Lawancorona. Wilayah negeri kaya minyak, Libya sarat kepentingan. Perhitungan para pelakor semakin tak karuan setelah intervensi yang semakin menajam. Fayez al-Sarraj menang dalam pertarungannya dengan Khalifa Haftar, satu periode baru terbuka.

Namun hal yang paling menyorot perhatian dari situasi terbaru ini adalah kekentalan dan bantuan unlimited Ankara ke Tripoli yang telah menyiratkan wajah di balik intervensi dan harapan mereka di salah satu negara Benua Afrika tersebut.

Lari dari Damaskus Menuju Tripoli

Kekentalan warna Ikhwan al-Muslimin teman-teman partai Keadilan dan Perkembangan (dari satu sisi) ditambah impian-impian Recep Tayyip Erdogan mengenai kerajaan Ottoman telah menarik Turki ke arah upaya peningkatan hegemoni hingga intervensi urusan dalam negeri negara-negara Arab Kawasan.

Sebelum krisis Suriah, intervensi dilaksanakan secara diam-diam dan halus melalui jalan ekonomi dan budaya. Akan tetapi pasca krisis, Turki mulai menapak jalan militeris dan keamanan, hingga kini Ankara masih dalam rel ini.

Kekalahan Ankara di Damaskus telah menjerumuskan Turki dalam situasi buruk. Sementara kemenangannya di Libya dapat menumbuhkan rasa percaya diri yang bisa dijadikan modal kembali.

Di sisi lain, pemerintahan Fayez al-Sarraj memiliki warna Ikhwan al-Muslimin, tapi mereka tidak memiliki kesempatan lain.

Dengan dasar inilah, Turki mengadakan kesepakatan dengan Libya. Turki berupaya menghadang pengiriman minyak Lebanon dan lainnya ke Eropa. Dengan upaya ini, Ankara berhasil menjadi pemain utama pemasok energi.

Di tengah-tengah upaya ini, Turki memindah ribuan pasukan dari Suriah ke Libya. Memerintahkan mereka untuk perang melawan Jenderal Haftar yang didukung oleh Emirat, Mesir, Arab Saudi dan lainnya.

Sebenarnya dukungan keuangan ditanggung oleh Qatar dalam kesepakatan tak kasat mata. Sedangkan Turki bertanggungjawab atas persenjataan dan layanan. Yang jelas, menegakkan bendera Fayez al-Sarraj adalah kunci bagi Recep Tayyip Erdogan.

Kekhawatiran Eropa

Tak diragukan lagi, Turki bukanlah satu-satunya aktor di Libya. Banyak negara lain yang mengincar kepentingan di sana.

Eropa takut gelombang imigran dari Timteng sehingga memaksa mereka untuk turun tangan dengan penuh kekhawatiran. Selain itu, kualitas minyak Libya sangatlah penting bagi perusahaan-perusahaan bahkan ekonomi Italia dan Prancis. Perusahaan-perusahaan itu tidak ingin menyerahkan Libya begitu saja, karena mereka telah merasakan manisnya SDA Tripoli.

Sisi lain medan Tripoli adalah Emirat-Mesir aktor yang tidak suka Ikhwan al-Muslimin. Bertetangga dengan pemerintah berbau Ikhwan al-Muslimin sangatlah menakutkan bagi Kairo. Bahkan dilaporkan bahwa ketika dikabarkan Haftar kalah, Mesir langsung mengirim pasukannya ke Libya.

Begitu pula Emirat yang sangat ketakutan mendengar pembangunan pusat tabligh Ikhwan al-Muslimin di Kawasan. Dan tentu saja, Arab Saudi bermain di tengah-tengah lapangan.

Medan Libya juga menjadi medan AS dan Rusia. AS mendukung pemerintahan Fayez al-Sarraj meskipun sedikit malu-malu karena terkadung diresmikan oleh PBB, sedangkan Rusia berdiri di belakang Khalifa Haftar.

Rusia percaya bahwa mereka bisa memenangkan Khalifa Haftar sebagaimana di Suriah. Namun karena situasi dasar kedua negara yang berbeda dan masalah dalam barisan militer Haftar, rasa pahit dicicipi oleh Rusia.

Melihat fakta di atas, sesungguhnya situasi di Libya sangatlah rumit. Kehadiran beberapa poros Kawasan dan luar Kawasan membuat prediksi masa depan Libya sangatlah sulit dilakukan.

Skenario separasi Libya bertambah lebih dari sebelumnya. Pertempuran para aktor telah menjadikan Libya sakit parah dan menutup kemungkinan untuk stabil dalam waktu dekat.

Intervensi Turki di Libya dilakukan atas persaingannya dengan Mesir dan Yunani. Itu juga dilakukan Ankara untuk ikut berkecimpung dalam penjarahan minyak dan merebut proyek pembangunan Libya.

Minimnya pemahaman Ankara akan situasi dasar, tali rajut politik serta sosial Tripoli telah menutup pintu keuntungan bagi Libya. Bahkan Erdogan bisa bernasib seperti di Suriah, situasi akan berbalik negatif.

Melihat sejarah, Rusia mengharap hubungan baiknya dengan Libya dapat membantunya. Tapi karena tidak adanya strategi politik yang layak dan masalah dalam barisan militer, Libya telah menjadikan Moskow tertunduk malu.

Masuknya teroris internasional ke medan perang Libya dan menetapnya mereka di negara krisis ini, akan membuat situasi Tripoli memburuk. Konflik kekuasaan masih akan tetap berlangsung, apalagi Barat tidak memiliki manajemen mumpuni dalam mengontrol para teroris tersebut.