Tinggalkan Maksiat Karena Allah SWT

PenaIndonesia.co.id-LawanCorona.”Bismillahirrahmannirrahiim. Barangkali orang yang berbuat maksiat melihat badan dan hartanya selamat sehingga mengira tidak disiksa, padahal sebenarnya hal itu merupakan siksaan pula.

SEGALA sesuatu yang diciptakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala di dunia dan apa-apa terjadi padanya, merupakan contoh peristiwa yang ada di akhirat. Ada pun mengenai makhluk di dunia, Ibnu Abbas r.a berkata, “Tidak ada sesuatu di surga yang menyerupai apa ada di dunia, kecuali dari segi nama-namanya.”

Ini karena Allah menghadirkan kerinduan dengan kenikmatan dan menakut-nakuti dengan berbagai bentuk azab. Ada pun yang terjadi di dunia ini, maka setiap orang yang zalim disiksa di dunia atas kezalimannya, sebelum ia mendapatkan siksaan di akhirat. Demikian pula dengan setiap orang yang berbuat dosa.

Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu.” (QS. an-Nisa: 123).

Barangkali orang yang berbuat maksiat melihat badan dan hartanya selamat sehingga ia mengira tidak disiksa, padahal kelalaiannya terhadap siksaan yang seharusnya diperolehnya itu sebenarnya adalah suatu siksaan.

Orang bijak berkata, “Kemaksiatan itu merupakan siksaan bagi kemaksiatan lainnya, sedang kebaikan setelah kebaikan adalah balasan bagi kebaikan.”

Barangkali pula siksaan di dunia itu berupa sesuatu yang tidak kasat mata, sebagaimana dikatakan oleh sebagian rahib Bani Israil, “Hai Tuhan, aku berbuat durhaka kepada-Mu, namun kenapa Engkau tidak menyiksaku ?” Maka dikatakan kepadanya, “Betapa banyak siksaan yang Aku berikan, tapi engkau tidak menyadarinya. Bukankah Aku telah menghalangimu memperoleh manisnya bermunajat dengan-Ku?”

Barangsiapa yang memperhatikan siksaan jenis ini, maka ia akan selalu waspada. Wuhaib bin Al-Ward berkata ketika ia ditanya, “Apakah orang yang berbuat maksiat itu mendapatkan lezatnya ketaatan?” Maka ia menjawab, “Tidak pula orang yang ingin melakukannya.”

Tidak jarang orang melepaskan pandangannya dengan bebas, lantaran itu Allah menghalanginya dari melakukan iktibar atas penglihatannya atau lidahnya sehingga ia pun terhalang memperoleh kejernihan hati. Barangkali juga ia memilih makanan yang syubhat, maka batinnya menjadi gelap, dihalangi dari shalat malam dan manisnya munajat, serta lain-lainnya.

Perkara seperti ini diketahui oleh orang yang terbiasa menginstropeksi diri (muhasabah). Ada pun orang yang bertakwa kepada Allah maka akan mendapatkan balasan atas ketakwaannya dengan sangat cepat. Ini sebagaimana dinyatakan dalam hadist yang diriwayatkan dari Abu Umamah bahwa Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

“Melihat kepada wanita (bukan mahram) itu merupakan panah beracun daripada panah-panah setan. Barang siapa yang meninggalkannya karena mengharapkan ridha-Ku maka Aku berikan kepadanya keimanan, yang rasa manisnya akan ia dapatkan di dalam hatinya.”

Ini adalah sekelumit dari bentuk yang banyak melalaikan seseorang. Ada pun jika berhadap-hadapan dengan perempuan secara nyata maka jarang sekali pandangan bisa tertahankan, di antaranya seperti yang disabdakan Nabi berikut,

“Tidur di pagi hari itu menghalangi rezeki dan sesungguhnya seorang hamba itu benar-benar terhalang dari rezeki karena dosa yang dilakukannya.” (HR. Ahmad).