SERBA-SERBI PADA EKONOMI DIGITAL DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Pena Indonesia.co.id – Awal mula Revolusi Industri 4.0 dimulai pada tahun 2018 yang dimana era ini di cirikan oleh perpaduan teknologi antara teknologi cyber dengan teknologi otomatisasi sehingga dapat menciptakan jaringan sosial yang dimana mesin dapat berkomunikasi satu sama lain.

Era ini muncul untuk pertama kali pada tahun 2012, saat pemerintah Jerman memperkenalkan bagaimana strategi pemanfaatan teknologi yang dikatakan dengan Industri 4.0. Industri tersebut merupakan pelaksanaan proyek Strategi Teknologi Modern Jerman untuk tahun 2020, yang kita ketahui saat ini, nantinya pada tahun 2020 negara di dunia diprediksi akan menduduki era Revolusi Industri4.0 yang dimana banyaknya robot canggih, kendaraan otonom, pengotomasian fungsi otakmanusia dengan editing genetik, dan perkembangan neuteknologi akan bermunculan.

Ekonomi digital adalah aspek ekonomi berbasis pada pemanfaatan dan pemberdayaan komunikasi digital serta teknologi informasi. Di kawasan Asia Tenggara, ekonomi digital ini sedang berkembangpesat seiring dengan besarnya potensi pasar. Memasuki era Revolusi Industri 4.0 dilandasi dengan adanya peningkatan kualitas hidup manusia. Dimana, perubahan ke arah automasi ini dapat melahirkan salah satu dampak negatif bagi para pekerja industri, yaitu hilangnya pekerjaan pada saat era Revolusi Industri 4.0 tiba. Adanya Revolusi Industri 4.0 ini dijadikan sebagai tantangan besar bagi sektor industri, yang dimana informasi dan komunikasi dimanfaatkan tidak hanya pada proses produksi, melainkan pada dunia industri sehingga dapat melahirkan bisnis pada basis digital guna mencapai kualitas produk yang baik.

Menurut Direktur Jenderal Pembinaan, Pelatihan, dan Produktivitas Kemenaker, Bambang Satrio Lelono, saat ini sebanyak 57 persen pekerjaan yang akan menggunakan robot dan saat era Revolusi Industri 4.0 tiba, akan ada pekerjaan baru yang bermunculan dengan prediksi sebanyak 65.000 pekerjaan.Pada era yang serba canggih seperti saat ini, setiap manusia memiliki gaya hidup yang tidak bisa lepas dari dunia elektronik. Terutama pada penggunaan internet yang sudah marak digunakan dimana saja sehingga e-commerce dapat berkembang pesat di berbagai daerah di Indonesia.

Peran ekonomi digital di dunia berdampak baik bagi perekonomian Indonesia, yang dimana hal ini dapat mengurangi pengangguran di Indonesia. Fakta membuktikan bahwa transportasi berbasis online seperti Gojek dapat merekrut karyawan sebanyak 250.000 orang.

Selain dampak ekonomi digital dapat mengurangi pengangguran, dapat ditimbulkan dari adanyaperkembangan teknologi yang pesat seperti dapat mengurangi biaya operasional dan efisiensi waktu. Misalnya seperti transaksi jual beli yang saat ini menjadi lebih mudah dilakukan secara online untuk memenuhi keinginan para pelanggan. Hal tersebut dapat dilakukan dengan duduk diam dirumah dan mengandalkan alat komunikasi yang sudah terpasang aplikasi online.

 Dengan adanya hal seperti itu dapat meningkatkan perkembangan ekonomi digital di Indonesia yang pada tahun 2017 tercatat US $75 Miliar dan pada tahun 2020 Indonesia di prediksi dapat meningkatkan ekonomi ekonomi digital dengan menduduki angka US $130 Miliar. Potensi ekonomi digital Indonesia memiliki dua faktor yaitu,

 Pertama, diuntungkan oleh adanya populasi, jumlah penduduk yang banyak dan terbesar di Asia Tenggara dengan jumlah 264 juta jiwa dapat berdampak pada penggunaan internet di Indonesia. Terdapat data yang dirilis oleh Kapios pada September 2017 mengatakan bahwa hampir 55 persen penduduk Indonesia tinggal di perkotaan.

Sementara, dari sisi penggunaan internet terdapat sekitar 133 juta jiwa pengguna yang setara dengan 50 persen populasi. Jumlah tersebut belum termasuk seberapa banyaknya pengguna aktif sosial media, sehingga dari jumlah yang diolah terdapat 155 juta jiwa pengguna. Oleh karena itu, banyak pihak yang menilai Indonesia akan menjadi salah satu pemain utama dalam industri dan ekonomi digital.

Kedua, besarnya peluang dari industri kreatif, dunia industri kreatif memiliki unique selling point yang akan memiliki peluang besar dan dapat tumbuh pesat dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Adanya hal tersebut bukan berarti dapat menutup industri-industri lokal seperti UKM. Justru pada era ini marketplace dan industri kreatif yang bergerak di bidang digital bekerja sama dengan UKM lokal. Lalu UKM yang bersinergi dengan marketplace mulai menggunakan platform digital sehingga dapat menyerap tenaga kerja. Terdapat data yang dirilis oleh Institute for Development of Economicsand Finance (INDEF) mengatakan bahwa pada kurun waktu 2015-2017 terdapat tambahanpenduduk yang bekerja hingga 1,1 juta jiwa.

Ekonomi digital yang sangat universal memiliki potensi bisnis yang masih terbuka lebar, pengguna teknologi informasi ataupun internet akan terus meningkat di Indonesia. Pada era ini juga dapat menuntut generasi muda millenial untuk untuk cerdas serta cerdik dalam memenangkan suatu peluang dengan tumbuh kreatif dalam kewirausahaan digital. Namun, untuk menghadapi ekonomi digital di era Revolusi Industri 4.0 bukan suatu hal yang mudah. Di dalam era ini sangat dibutuhkan berbagai peranan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan untuk menghadapi serta mengatasi berbagai masalah dan tantangan yang ada.

 Setiap individu wajib memiliki beberapa skills yang dibutuhkan dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0 yaitu, Complex problem, ialah kemampuan dalam menyelesaikan masalah melalui identifikasi permasalahan, kemudian mengulas kembali informasi terkait guna menentukan bagian yang menjadi masalah utama, melihat dan mengimplementasikan berbagai kemungkinan solusi terhadap masalah tersebut.

Kedua, Critical thinking and analysis, ialah kemampuan berpikir secara logis dan kognitif sehingga dapat mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan dari solusi alternatif, keputusan ataupun pendekatan terhadap permasalahan yang ada. Berpikir secara kritis dapat menilai berbagai tindakan dengan tujuan yang jelas guna menghasilkan suatu perubahan. Ketiga, Creativity, originality, and iniatitive, ialah kemampuan untuk menciptakan ide kreatif, cerdas, dan unik guna perkembangan suatu inovasi sehingga mampu menyelesaikan masalah dan dapat memberi manfaat bagi masyarakat sekitar, serta dibutuhkan kemauan untuk berani dalam mengambil tanggung jawab dan siap pada tantangan yang akan dihadapi.

Penulis : Devina Aulia Rahma,

Mahasiswi Administrasi Keuangan dan Perbankan

2019, Program Pendidikan Vokasi UI