Polda Jatim Ringkus Penganiaya Dokter Rs Blambangan

Penaindonesia.co.id-Newnormal. Jajaran Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jatim akhirnya berhasil meringkus tiga orang pelaku penganiayaan terhadap seorang dokter Rumah Sakit Blambangan, Banyuwangi.

Ketiga pelaku tersebut adalah Subandik (37), Mat Ali (34) dan Hariyono (34), ketiganya diketahui merupakan anggota LSM Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (GMBI).

Kepada awak media, Direktur Reserse Kriminal Umum (Direskrimum) Polda Jatim memaparkan kronologi penganiayaan yang menimpa seorang dokter (korban) pada Juli 2020 lalu di RSUD Blambangan, Banyuwangi.

Dimana kejadian tersebut berawal saat dokter menyarankan seorang pasien untuk melakukan rawat jalan.

“Awalnya ada seorang pasien yang dibawa ke RSUD Blambangan, Banyuwangi. Namun oleh dokter di sana dinyatakan bahwa pasien ini tidak perlu dirawat, jadi bisa jalani rawat jalan. Kemudian dari pihak pelaku merasa tidak terima dan melakukan tindakan penganiayaan secara bersama kepada korban,” ujar Pitra saat gelar rilis di Gedung Ditreskrimum Polda Jatim, Senin (10/8)

Pitra juga menambahkan bahwa sampai saat ini pihaknya mengaku masih melakukan penyelidikan dan penyidikan serta memeriksa saksi-saksi.

Sedangkan ketiga pelaku tersebut berhasil ditangkap dan sekarang melakukan pengejaran terhadap pelaku lainnya yang masih buron (DPO).

“Saat ini tim kami juga masih berada di lapangan untuk mencari pelaku yang lain. Yakni sesuai dengan atensi karena ini peristiwa yang cukup meresahkan karena menghadapi Pandemi Covid-19 dan masih ada yang melakukan demikian. Sehingga kita perlu tindakan tegas. Jadi pada kesempatan saat ini kita sudah mengamankan tiga orang dan kemungkinan bertambah,” tegasnya

Kepada petugas, tersangka NH menceritakan, berawal dari telepon seseorang yang meminta bantuan, dia kemudian mengantarkannya ke Rumah Sakit Blambangan untuk berobat.

“Sesampainya di sana, pasien ini muntah darah. Lalu dari dokter itu menyampaikan pasien itu tidak apa-apa,” cerita NH.

Karena dianggap tidak masuk akal, NH pun meminta jawaban rumah sakit secara tertulis perihal sakit yang diderita pasien.

“Dari kami minta jawaban secara tertulis alasannya kenapa karena kami melihat keadaan pasien semakin lemah. Waktu itu saya sendiri hanya debat dan cekcok, karena saat itu banyak security,” terangnya.

Perdebatan yang dilakukan NH tidak menemukan solusi, hingga akhirnya luapan emosi pun tak tertahankan.

NH dan rekannya yang berjumlah sekira 10 orang kemudian melakukan penganiayaan terhadap dokter.

“Penganiayaannya spontan, kita tidak punya rencana untuk menganiaya,” katanya.

Atas perbuatan, para pelaku dikenakan pasal berlapis yakni Pasal 214, Pasal 351 dan Pasal 170 KUHP dengan ancaman hukuman pidana 5 tahun penjara.