Mengalah untuk Menang

Penaindonesia.co.id-Lawancorona-Bismillah. Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW mengeluhkan kondisinya yang lapar dan sedang mengalami kesusahan. Nabi pun membawanya kepada salah seorang istrinya. Namun sang istri berkata, “Demi yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak mempunyai apa pun selain air.” Kemudian, beliau membawa orang tersebut kepada istrinya yang lain, tetapi sang istri memberikan jawaban yang sama. Dan, jawaban seperti itulah yang diberikan oleh istri-istri beliau yang lain semuanya.

Lalu, Nabi berkata kepada para sahabat, “Siapakah yang mau menjamu orang ini malam ini? Semoga Allah menyayanginya.” Seorang sahabat dari Anshar berkata, “Saya, wahai Rasulullah.” Maka, sahabat Anshar itu membawa orang tersebut ke rumahnya. Dia berkata kepada istrinya, “Apakah kamu mempunyai sesuatu?” Si istri menjawab, “Tidak, kecuali makanan anak-anak kita.”

Sahabat itu berkata, “Kalau begitu, palingkanlah perhatian mereka dengan sesuatu. Nanti jika tamu kita masuk, matikanlah lampunya. Tampakkan bahwa kita juga makan bersamanya ketika dia makan.” Maka, mereka pun duduk bersama dan mempersilakan si tamu tersebut untuk makan. Esok harinya, Nabi SAW berkata kepada sahabat itu, “Sungguh Allah kagum dengan apa yang kalian berdua lakukan terhadap tamu kalian tadi malam.” Hadits ini diriwayatkan Imam Al-Bukhari (4510), Muslim (5480), Al-Hakim (7282), Al-Baihaqi dalam Asy-Syu’ab (3323), Abu Ya’la (6034), dan Ibnu Hibban (5376) dari Abu Hurairah RA.

Dalam Syarh Shahih Muslim, Imam An-Nawawi berkata, “Dalam hadits ini terdapat keutamaan mengalah dan dorongan untuk melakukannya. Para ulama sepakat, bahwa mengalah dalam hal memberi makan dan hal-hal lain dalam urusan dunia adalah perbuatan yang utama.” Menurut Syaikh Al-Utsaimin, dari sisi hukum, mengalah ada tiga macam: Tidak boleh (mamnu’), makruh atau mubah, dan mubah.

Yang pertama, mengalah yang terlarang adalah dalam masalah kewajiban syariat. Misalnya, jika kita memiliki air wudhu yang hanya cukup untuk seorang, sementara kita belum berwudhu, maka kita tidak boleh memberikan air tersebut kepada orang lain. Dalam hal ini, orang tersebut mesti bertayamum dan kita wajib berwudhu. Syaikh Al-Utsaimin menekankan, “Jadi, mengalah dalam kewajiban syariat adalah haram.”

Kedua, mengalah dalam hal-hal yang disukai adalah boleh, namun sebagian ulama memakruhkannya. Misalnya, saat kita berada pada shaf pertama shalat jama’ah lalu datang orang lain dan kita memberikan tempat kita kepada orang tersebut, maka ini hukumnya makruh. Para ulama mengatakan bahwa ini adalah perbuatan orang yang tidak menyukai kebaikan, dan berpaling dari kebaikan adalah makruh. Adapun jika orang yang datang tersebut adalah ayah kita, maka kita boleh mengalah kepadanya.

Dan ketiga, mengalah dalam selain masalah ibadah adalah boleh bahkan disukai. Misalnya, ketika kita punya makanan dan kita sedang lapar, lalu datang saudara kita yang juga lapar. Dalam hal ini, jika kita mengalah dengan memberikan makanan tersebut kepada saudara kita, maka ini adalah perbuatan terpuji. (Lihat; Syarh Riyadh Ash-Shalihin)

Secara umum, dalam masalah non-ibadah wajib, sesungguhnya mengalah adalah perbuatan yang positif, sangat terpuji, lagi mulia. Sebab, menyerahkan hak kepada orang lain atau membuat orang lain memiliki apa yang kita punya, adalah sesuatu yang berat untuk dilakukan. Ada pengorbanan dalam mengalah di mana tidak semua orang sanggup melakukannya