Kasus Penipuan Rp 20 Juta, Terdakwa Bantah Kesaksian Pelapor

Penaindonesia.co.id. Sidang perkara dua pengusaha batu bara, pada sidang lanjutan di Pengadilan Negeri Surabaya, Senin (28/9/2020) lalu.

Mujiburrahman (44), warga Perum Bumi Persada Hijau, pemilik PT Putra Mahendra Pratama (PMP), jadi terdakwa dengan tuduhan penipuan penggelapan uang Rp 20 juta.

Dia menjadi pesakitan dan ditahan pada akhir Mei 2020, akibat laporan Kelvin Prasetyo Wijanto (33), Direktur CV Vindy Utama (VU), tinggal di Puncak Permai, Tandes, Surabaya.

Ketua majelis hakim yang memimpin sidang, Slamet Riyadi, menjadi penengah ‘perdebatan’ meneliti bukti bukti yang diajukan. 

Baik yang diajukan Jaksa Deddy Arisandi, maupun penasihat hukum terdakwa, M Asikin dan EdynHarianto. Serta saksi Kelvin.

Pada persidangan online dengan sound yang timbul tenggelam di ruang Candra, saksi Kelvin kembali dihadirkan. 

Dia membenarkan telah menyewa gudang PT Bara Merah Cemerlang (BMC), untuk menyimpan batu bawa miliknya. Dari total tagihan sewa, kurang Rp 20 juta.

Uang Rp 20 juta itu ditransfer ke rekening terdakwa, dengan maksud untuk dibayarkan ke pemilik gudang, Thomy Yance, Direktur PT BMC, Tambak Osowilangon Surabaya. 

Sementara M Asikin, penasihat hukum terdakwa,  mempertanyakan pesan WhatsApp terdakwa dan saksi. Saksi Kelvin pun membenarkan. Dari pesan itu dia mentransfer Rp 20 juta kepada terdakwa.

Tetapi ketika majelis hakim bertanya pada terdakwa Muijiburrahman tentang keterangan saksi, terdakwa menjawab salah semua.

Bahkan, Mujiburrahman menjelaskan bahwa uang Rp 20 juta itu pembayaran utang saksi, bukan titipan untuk bayar utang. 

“Saksi (Kelvin) punya utang Rp 68 juta, sudah lama belum dibayar,” jelas Mujiburrahman, tetapi.

Ketua majelis Slamet Riyadi memotong penjelasan terdakwa. “Nanti ada kesempatan sendiri,” sela hakim yang diiyakan terdakwa. 

Lantas saksi pun ditanya apakah mempunyai utang pada terdakwa, namun saksi bilang tidak punya utang. 

Sementara itu, M Asikin, saat ditemui wartawan seusai sidang mengatakan, sangat kasihan terhadap kliennya. Sudah ditahan sejak Mei sampai detik ini.

“Kami sudah mengajukan penangguhan penahanan. Selain keluarga, kami juga menjadi penjamin. Dan minta agar bisa menghadirkan terdakwa di persidangan,” kata M Asikin yang mantan wartawan itu.

Menurut dia, kehadiran terdakwa di depan majelis hakim di persidangan, diharapkan untuk mencari kebenaran materiil. Juga akan menguak apa sebenarnya yang terjadi.

Dikatakan, terdakwa didakwa atas laporan polisi nomor 942, 23 Oktober 2019. Soal penipuan dan penggelapan jual beli batu bara Rp 600 juta. 

“Lha kok didakwa soal titipan uang pembayaran sewa gudang Rp 20 juta. Kan gak nyambung, sangat ganjil. Laporannya mana?” kata dia.

Apalagi, lanjut dia, saksi dan pemilik gudang ada perjanjian sewa. Termasuk cara penagian dan pembayarannya. 

“Kan aneh kalau saksi  menitipkan uang ke terdakwa untuk membayar sewa,” kata M Asikin serius.(Mbah)