Jaga Amanah

Pena Indonesia.co.id – بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (Bismillahirrahmanirrahim), MENJAGA amanah adalah perkara paling berat di dunia. Sebab, sifatnya keyakinan akan pemberian kepercayaan agar dijalankan dan terpelihara dengan baik.

Amanah berasal dari kata amuna yang bermakna tidak meniru, terpercaya, jujur, atau titipan. Segala sesuatu yang dipercayakan kepada mansuia, baik yang menyangkut hak dirinya, hak orang lain, maupun hak Allah SWT.

Disebutkan, dalam Al-Quran, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.” (QS An-Nisa [4]: 58).

Ruang lingkup amanah begitu luas, tapi dibagi tiga bentuk amanah, yakni dengan Allah, dengan sesama manusia, terakhir dengan diri sendiri.

Sementara dalam pelaksanaannya amanah terbagi tiga. Pertama, amanah dalam menunaikan hak Allah swt, seperti mentauhidkan Allah dengan ibadah, melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya.

Kedua, amanah terhadap nikmat dan anugerah Allah swt, seperti penglihatan, pendengaran, kesehatan, harta, kendaraan, anak, keluarga, jabatan, kekuasaan, dan lain-lain.

Baca Juga:  Berbaktilah Kepada Kedua Orang Tua

Ketiga, amanah dalam menunaikan atau menyampaikan hak-hak manusia, seperti titipan barang, harta, rahasia, kehormatan, amanah anak, keluarga, dan lain-lain.

Dalam tausiah usai sholat subuh berjamaah di Masjid Hasanudin Madjedie, Banjarmasin, menurut Ustad Ami Thalif Gani, amanah itu adalah kejujuran dan keikhlasan. Kemudian contoh umum yang paling banyak diketahui diantaranya adalah amanah terhadap istri, anak dan jabatan.

Oleh sebab itu, ingat ustad, kerahasian amanah akan istri harus dijaga. Dimana, hak menggauli dan menjaga serta memenuhi kewajiban sebagai suami untuk istri.

“Kalau kita sholat dan seterusnya wajib membimbing istrinya. Dan istri harus mentaati perintah suami. Contoh kecil, istri harus izin pada suami ketika keluar rumah, jika istri tidak ada izin maka sanksinya mengingkari amanah Allah. Dan kalau suami menghina istri, maka suami sama mengikari pada Allah,” ujar Ustad Ami.

Sehingga, setiap jiwa memegang amanah yang mesti dijaga dengan sekuat tenaga hingga sempurna. Sebab, menjaga amanah dapat jaminan surga. Rasulullah SAW bersabda, “Jaminkan untukku enam perkara dari kalian, niscaya aku jaminkan surga untuk kalian, – di antara keenam perkara itu adalah – hendaklah kamu menunaikan amanah jika kamu mendapatkannya.” (HR. Ahmad).

Baca Juga:  Energi Bersyukur

Bahkan, Allah juga memperingatkan untuk menjaga amanah. Sebagaimana Al Quran, berbunyi, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS Al-Anfaal [8]: 27)

Oleh karena itu, umat yang menyia-nyiakan amanah, baik secara zahir maupun batin, termasuk adalah orang-orang musyrik. Kemudian, manusia yang menyia-nyiakan amanah secara batin dan memeliharanya secara zahir. Mereka adalah orang-orang munafik.

“Tanda orang munafik itu ada tiga; apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia tidak menepatinya dan apabila diamanahi (diberi amanah) ia khianat,” (Muttafaqun ‘Alaihi; HR Bukhari no. 33 dan Muslim no. 107). Dan dalam riwayat lain (ada tambahan), “Meskipun ia puasa, shalat dan mengaku bahwa dia Muslim,” (HR Muslim, no. 222).(N)