Islam, Raih Hidup Bahagi

Penaindonesia.co.id-Bismillah. Dalam satu hadis di riwayatkan, ”Wahai bibi, tolong ceritakan kepadaku bagaimana kalian membina rumah tangga?” Urwah, kemenakan Aisyah RA melontarkan pertanyaan, saat dia menemani hari-hari Aisyah yang tengah berkabung atas kepergian Rasulullah Muhammad SAW ke pangkuan Sang Khaliq.

Sambil tersenyum getir, Aisyah mencoba mengulang kembali kenangan indah yang paling berkesan saat ia masih menjadi istri baginda Rasul. ”Demi Allah wahai kemenakanku. Sungguh kami pernah melihat bulan sabit berganti di langit sampai tiga kali berturut-turut dalam dua bulan. Selama itu tidak pernah tungku api menyala di seluruh rumah istri Rasulullah Muhammad SAW.”

Aisyah RA masih tetap tersenyum meski kalimat itu telah terhenti. Mendengarnya, Urwah kaget dan berkata, ”Wahai bibi, bagaimana kalian bisa bertahan hidup bila sedemikian?” 

Baca Juga:  Islam, Pandailah Bersyukur

Aisyah lalu menjawab, ”Dengan dua benda hitam; yaitu kurma dan air yang tidak jernih. Namun, terkadang beberapa tetangga Rasulullah Muhammad SAW dari golongan Anshor yang memiliki domba suka mengirimkan susu kepada kami untuk diminum.” (Muttafaq Alaihi). 

Subhanallah! Itulah kebahagiaan keluarga bumi yang berhati langit. Ketiadaan materi tidak membuat mereka panik, berespons keras atau meminta cerai dari Rasulullah Muhammad SAW. Benar, episode hidup keluarga ini telah dipertontonkan Allah SWT kepada umat dan kita semua, bahwa pilihan hidup bahagia meski tak berlandaskan materi dapat dijalankan dengan damai.

Kebersahajaan hidup Rasulullah Muhammad SAW juga tergambar dalam sebuah hadis riwayat Anas RA; Dari Anas Ra, ”Nabi SAW menggadaikan baju besinya dengan sejumlah tepung gandum. Karenanya, aku pun datang kepada Nabi SAW dengan membawa roti gandum dan minyak sayur. Sungguh aku pernah mendengar Beliau bersabda, ‘Keluarga Muhammad tidak pernah memiliki satu sha gandum baik pada pagi maupun sore’.” (HR Bukhari)

Baca Juga:  Islam, Jaga Sedekahmu

Dalam sebuah ayat Allah SWT berfirman, ”Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS Aththalaaq [65]: 3)

Keluarga Rasulullah Muhammad SAW tidak pernah memiliki nafkah yang cukup untuk menghidupi hari-hari mereka. Akan tetapi, kehidupan mereka berjalan mulia dan keharmonisan pun masih tetap mereka miliki. Jika mereka bisa hidup bahagia tanpa keberadaan nafkah, lalu bagaimana dengan kita?