“Dubleeg Enake Caak” Goyang Lidah Kaya Rempah Coto Makassar & Sop Conro Asuhan Daeng Nai

Penaindonesia.co.id-Newnormal. Siapa yang tak kenal coto ataupun sop konro khas dari Makassar ini. Kuahnya yang berwarna cokelat keruh ini ternyata menyimpan kelezatan yang tiada tara. Belum lagi iga sapinya yang empuk berpadu serasi dengan sensasi gurih, asam, dan pedas kuah konro yang benar-benar mampu menggetarkan lidah.

Jika ditanya soal kuliner Makassar yang terlintas dalam benak pastilah coto atau sop konronya. Hmm… soal rasa jangan ditanya, karena kelezatan kedua hidangan ini pastinya menggetarkan lidah. Saat mendapat tawaran untuk makan siang bersama di pusat wisata kuliner masakan khas Makassar (Sulawesi Selatan) d’boengkoel yang ada di bilangan jalan Darmo Surabaya, tanpa berpikir dua kali saya pun langsung segera meluncur ke sana. Rabu (12/08/2020)

Udara panas, siang itu pusat wisata kuliner d’boengkoel yang berada di jalan Darma 116 pusat Kota Surabaya, sudah tampak ramai. Kepulan asap seakan tak pernah berhenti dari panggangan tuna asap yang berada di luar resto, tepat menghadap ke arah jalan raya. Suara desis menikmati daging Coto Makassar dan Sop Konro bagai musik pengiring kami saat memasuki d’boengkol. Hmmm… harumnya bumbu rempah-rempah lamat-lamat menggelitik hidung sedapp!

Hampir setiap menjelang makan siang resto d’boengkpel ini selalu ramai. Tempat bersantapnya yang semilir hembusan angin. Di atas meja sudah ada sepiring buras berukuran sedang yang dibungkus dengan daun pisang muda, ketupat yang dibungkus janur hijau dan beberapa mangkuk sambal.

Tak lama seorang pelayan datang menghampiri dengan sebuah buku menu ditangan. Sesuai dengan signature dish yang ada di resto d’boengkoel ini pesanan kami jatuh pada coto Makassar dan sop konro. Untuk coto sendiri ada dua pilihan yaitu coto daging dan coto campur.

Berhubung coto daging habis, terpaksa saya pun memesan coto campur yang terdiri dari daging sapi, iso, babat, limpa, dll. Lalu tak ketinggalan seporsi sop konro untuk teman saya. Sebagai pendamping, rasanya belum pas jika tidak memesan es pisang ijo khas Makassar dan segelas es jeruk yang suegerr untuk pelepas dahaga.

Coto campur datang tak lama kemudian dalam mangkok putih bersama sepiring ketupat. Coto, sebutan untuk soto Makasar ini kuahnya masih mengepul panas ini tampak keruh, berwarna kecokelatan dengan genangan minyak tak berlebihan. Tak ketinggalan taburan bawang merah goreng yang menggenang diatasnya. Sungguh mengundang selera…

Sebelum disantap si coto harus diracik terlebih dahulu. Kucuran jeruk nipis, sedikit garam, dan sambal (ada yag digoreng dan ada yang direbus) yang saya tambahkan hmm… membuat rasanya semakin pas. Saat dihirup slurpp… rasa hangat langsung menjalari kerongkongan sungguh nikmat! Rasa gurih kaldu, sensasi asam jeruk, dan pedas sambal langsung menciptakan sensasi kelezatan yang menggoyang lidah.

Isi coto yang berupa irisan daging, jeroan yang berupa hati, babat, iso, dan limpa sebagai isi coto ini dipotong kecil-kecil. Rasanya cukup lembut, sehingga saya pun tak kesulitan saat mengunyahnya. Satu lagi, kebersihan aneka jeroan ini juga patut diacungi jempol. Karena itu dengan lahap saya kunyah isinya.

Tak lengkap rasanya menyantap coto tanpa buras atau ketupat. Bagi orang Makassar buras dan ketupat sudah seperti makanan pokok yang tak bisa dipisahkan saat menyantap hidangan. Buras ini terbuat dari beras mirip seperti lontong, namun bentuknya saja yang berbeda karena dibungkus daun pisang berbentuk pipih seperti kue pisang. Tak hanya dicampurkan ke coto, buras ini juga bisa dinikmati dengan bumbu kacang.

Akhirnya seporsi sop konro yang ditunggu-tunggu pun tiba, lalu disusul oleh es pisang ijo. Sop konro ini terdiri dari dua buah iga sapi yang berukuran cukup besar. Yang saya suka kuahnya tak begitu kental, mirip seperti coto… agak keruh dengan rempah yang ringan dan tidak begitu nonjok. Iga sapi lokal tanpa lemak ini dipotong panjang sehingga nyaris melebihi pinggir piring. Dagingnya benar-benar empuk, sehingga saat saya mengoyaknya dengan sendok dan garpu tak ada kesulitan sama sekali. Meskipun di kota asalnya sendiri sop konro rasanya akan makin nikmati jika disantap dengan tangan.

Sengaja sop konro saya santap tanpa ketupat, agar masih bisa menyisakan tempat untuk si es pisang ijo. Yang dimaksud dengan es pisang ijo sendiri sebenarnya adalah pisang yang dibalut dengan adonan tepung beras berwarna hijau lalu dikukus hingga matang. Pisang ini kemudian diiris-iris, diberi bubur sumbum, sirop merah dan serutan es batu. Hmm… rasanya suegerr meredam rasa pedas konro. Es jeruknya pun tak kalah menggiurkan, tampil berwarna kuning oranye, diperas dari jeruk Pontianak… seger, (AH)

Pusat Wisata Kuliner D’Boengkoel
“Coto Makassar & Sop Konro” Asuhan Daeng Nai
Jl. Raya Darmo 116
Surabaya, Jawa Timur
Telp: 021-4520155/4503574
Jam Buka: 09.00 – 22.00

Telp : 0812 2610 8609