Didik Anak Dengan Agama

Pena Indonesia.co.id – Dalam satu riwayat, Abdullah Ibnu Abbas RA bercerita tentang cara Rasulullah SAW mendidiknya disaat belia. Ia diajak naik unta, lalu diberikan petuah berharga dalam suasana yang menyenangkan dan nyaman.

Baginda SAW menyapa hangat, “Ya ghulam (wahai anak muda), aku ingin memberikan beberapa nasihat kepadamu. Peliharalah Allah, niscaya Dia akan memeliharamu. Peliharalah Allah, niscaya engkau akan menjumpai-Nya di hadapanmu. Jika kau meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah.

Ketahuilah, andai kata seluruh umat manusia bersepakat untuk memberi sesuatu padamu, niscaya mereka tidak akan bisa memberinya, kecuali apa yang telah Allah takdirkan untukmu. Dan, andai kata mereka bersatu padu untuk menimpakan suatu bahaya, niscaya mereka tidak akan dapat membahayakanmu, kecuali apa yang telah ditakdirkan Allah bagimu. Qalam telah diangkat dan lembaran catatan telah mengering” (HR at-Tirmidzi).

Baca Juga:  7 Petarung Jawa Timur Siap Berlaga di Bandung Lautan Api Popnas 2019

Jamal Abdur Rahman dalam buku Tahapan Mendidik Anak, Teladan Rasulullah SAW mengatakan, anak berhak berteman dengan orang dewasa agar ia memperoleh pelajaran cara mematangkan jiwa, menyerap ilmu pengetahuan dan hikmah. 

Alangkah baiknya jika orang tua mengajak anak bermain demi menyenangkan hatinya. Seperti Nabi SAW, rela merangkak untuk cucunya Hasan dan Husein yang menaiki punggungnya. Lalu berkata, “Ni’mal jamalu jamalukuma, wa ni’mal ‘adlaani antumaa”. Artinya, sebaik-baik unta adalah unta kalian berdua, dan sebaik-baik penyeimbang adalah kalian berdua. (HR ath- Thabrani).

Baca Juga:  Hindari Kerusuhan, Persebaya -Arema Tidak Satu Group Piala Gubernur Jatim

Sejatinya, mendidik itu tidak bisa mendadak karena setiap yang mendadak tidak mendidik. Mendidik anak ibarat menanam sebuah pohon yang butuh proses dan banyak aspek saling berkaitan. (QS.14:24-25).

Setidaknya, ada enam faktor yang memengaruhi pertumbuhan sebuah pohon menjadi baik (syajaratun thoyyibah), yakni ketulusan sang penanam, bibit yang berkualitas, tanah yang subur, pengawasan yang intensif, pupuk dan air yang cukup, serta iklim yang kondusif.R