Demonstrasi Tuntut PM Thailand Terus Berlanjut

Penaindonesia.co.id. Para pimpinan pengunjukrasa mengatakan, plakat itu merupakan pengganti atas plakat serupa yang menandai berakhirnya monarki absolut pada 1930an yang hilang tiga tahun silam.

Dilansir dari BBC.NEWS, dalam aksinya, pengunjuk rasa telah memasang plakat di dekat Istana Kerajaan di Bangkok yang menyatakan bahwa “negara milik rakyat”.

Setelah menggelar demo pada Sabtu (19/09), yang diikuti puluhan ribu orang, para pengunjukrasa mendirikan kemah dan menginap di lapangan di dekat istana kerajaan, mereka melanjutkan aksinya pada Minggu pagi.

“Ganyang feodalisme, hidup rakyat,” teriak sejumlah pengunjukrasa. Sampai sejauh ini belum ada laporan yang menyebutkan adanya kekerasan.

Unjuk rasa anti-pemerintah yang digelar pada Sabtu disebut sebagai salah satu aksi protes terbesar dalam beberapa tahun, yang sedikitnya melibatkan 15.000 orang, ungkap kepolisian Thailand.

Sejak Juli lalu, demonstrasi digelar untuk menyerukan pengunduran diri Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha yang mengambil alih kekuasaan dalam kudeta 2014 dan memenangkan pemilu yang disengketakan tahun lalu.

Demonstrasi yang dipimpin aktivis mahasiswa pada Sabtu, yang semula digelar di pelataran kampus Universitas Thammasat kemudian dipindah ke lapangan di sebelah istana kerajaan, yang selama ini digunakan untuk kegiatan upacara kerajaan.

Demonstrasi hampir setiap hari terjadi di Bangkok selama berminggu-minggu dengan menyerukan pengunduran diri perdana menteri.

Beberapa orang juga mendesak reformasi monarki, walau desakan ini berarti mendekatkan diri dengan risiko dari undang-undang pencemaran nama baik kerajaan yang ketat di Thailand.