Cintailah Saudaramu, Seperti Mencintai Diri Sendiri

Penaindonesia.co.id-Newnormal-Bismillah. Agama Islam telah mengajarkan untuk mencintai dan menyayangi saudara. Rasulullah mengajarkan agar mencintai saudara seperti halnya mencintai diri sendiri, dalam hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim dijelaskan bahwa Rasulullah SAW berkata:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak beriman salah seorang dari kalian sampai mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.” (HR: Bukhari dan Muslim) 

Ketika menjelaskan hadis ini, para ulama menekankan pada beberapa hal, berikut uraiannya:

Pertama, ungkapan “tidak beriman” bukan berarti menjadikan pelakunya menjadi kafir. Ungkapan “tidak beriman” maksudnya tidak memiliki iman yang sempurna. Hal ini sesuai dengan yang ditegaskan Imam Ibnu Hajar dalam Fathul Bari Syarah Sahih Bukhari berdasarkan beberapa petunjuk dari riwayat yang lain.

Kedua, ungkapan “mencintai saudara” maksudnya dalam hal kebaikan. Bukan menyetujui semua tindakannya meski dalam hal buruk. Mencintai saudara hanya khusus dalam hal kebaikan sebagaimana dijelaskan Ibnu Hajar dan Al-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim. Kebaikan di sini mencakup perilaku-perilaku ketaatan dan hal-hal yang hukumnya mubah, baik urusan dunia maupun akhirat. Selain itu, kebaikan juga mengecualikan hal-hal yang dilarang.

Ketiga, Ibnu Hajar, terkait hadis ini, menjelaskan secara spesifik bentuk praktis dari mencintai saudara seperti halnya mencintai diri sendiri. Beliau mengatakan:

وَالْمُرَاد هُنَا بِالْمَيْلِ الِاخْتِيَارِيّ دُون الطَّبِيعِيّ وَالْقَسْرِيّ ، وَالْمُرَاد أَيْضًا أَنْ يُحِبّ أَنْ يَحْصُل لِأَخِيهِ نَظِير مَا يَحْصُل لَهُ ، لَا عَيْنه ، سَوَاء كَانَ فِي الْأُمُور الْمَحْسُوسَة أَوْ الْمَعْنَوِيَّة ، وَلَيْسَ الْمُرَاد أَنْ يَحْصُل لِأَخِيهِ مَا حَصَلَ لَهُ لَا مَعَ سَلْبه عَنْهُ وَلَا مَعَ بَقَائِهِ بِعَيْنِهِ لَهُ

“Cinta yang dimaksud di sini adalah keinginan (agar orang yang dicintai mendapatkan kebaikan) yang bersifat diusahakan. Bukan sekedar watak asli atau sebab paksaan. Selain itu, ia suka bila saudaranya memperoleh sama dengan seperti yang ia peroleh. Tidak harus sama persis. Entah itu dalam hal-hal yang kasat mata atau tidak. Dan juga, maksud si saudara memperoleh apa yang ia peroleh, artinya tidak harus si pelaku kehilangan perolehan tersebut atau tetap memiliki perolehan tersebut.”

Keterangan Ibnu Hajar di atas bila dipraktikkan seperti ini, bila menginginkan saudara kita menjadi kaya seperti kita, tidak harus dengan cara membagi harta kekayaan kita. Bisa juga dengan membantunya memiliki perkerjaan yang hasilnya bisa menjadikan ia kaya seperti kita. Dengan cara ini, lanjut Ibnu Hajar, manusia di ajarkan untuk memiliki sikap rendah hati. Sehingga ia tidak mudah iri, dengki, dendam dan sikap buruk lainnya kepada saudaranya.

Selanjutnya Ibnu Hajar mengutip pernyataan Imam al-Karmani bahwa termasuk dari kesempurnaan iman juga, membenci saudaranya tertimpa keburukan yang ia benci bila sesuatu tersebut menimpa dirinya sendiri. Dan ini tidak perlu harus ada dalam hadis. Sebab mencintai sesuatu berati membenci kebalikannya. (is)