Bermunajat Kepada Allah SWT

Pena Indonesia.co.id – بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (Bismillahirrahmanirrahim), Lawan COVID 19. Munajat berarti mendekatkan diri pada Allah melalui beribadah atau sholat di tengah malam dengan mengakui kerendahan, kelemahan, kehinaan serta sifat sifat ketidak mampuan yang lain dari seorang hamba ketika menghadap pada Sang Raja Diraja, Al Kholiq, Allah SWT. 

Tak meragukan  lagi bagi orang yang bermunajat itu akan merasakan  kelazatan dan kenikmatan yang sangat dalam munajat-munajatnya, karena yang demikian itu dapat dibuktikan dengan hukum-hukum akal dan naqal.
                    

Adapun dengan hukum akal dapat diumpamakan, seseorang yang mencintai orang lain karena kecantikannya, ataupun terhadap seorang raja karena kemurahan hatinya dan karena banyak harta yang dibelanjakannya. Dalam dua misal tadi, dapat dibayangkan betapa orang yang tercinta itu merasa nikmat bila dapat bertemu dan berkhalwat dengan orang yang dikasihinya dan tidak mustahil juga, dia akan merasa ridha untuk bercumbu-cumbuan dengannya sepanjang malam, tanpa tidur oleh karena terlalu dalam cintanya terhadap orang itu.

Andaikata ada orang yang berkata: Memang benar itu, tetapi jika orang yang cantik atau kekasihnya itu dapat dilihat dengan mata secara berhadapan-hadapan, bagaimana pula dengan Zat Allah yang tidak mungkin dilihat di dunia ini?

Ketahuilah, bahwasanya jika kekasihnya itu memang benar-benar dicintai, tak  mengapa walaupun ia berada nun jauh di sana ataupun di balik tabir. Atau jika ia berada di tempat yang gelap-gulita. Namun orang yang mencintainya itu tetap merasakan kenikmatan dengan semata-mata berada dekat dengannya, meskipun tanpa dapat melihat kekasihnya itu. Manakala hatinya akan merasa puas/ senang  dengan yang demikian itu dan tiada mengharapkan selain dari itu. Memang  merasakan kenikmatan dengan melahirkan cintanya itu terhadap kekasihnya dan cukuplah menyebut-nyebutkan dengan lidah ketika berdekatan dengannya sehingga perkara itu menjadi termaklum.

Andaikata orang itu berkata lagi: Mungkin orang yang bercinta itu menunggu jawaban kekasihnya, dan tentu sekali dia akan merasa senang bila mendengar jawabannya itu, sedangkan orang yang mencintai Allah, tidak mungkin mendengar percakapan (firman) Allah Ta’ala?

Ketahuilah, kiranya ia mengetahui bahwa kekasihnya itu (Allah) tidak akan memberi jawaban dan akan terus berdiam diri, tentulah ia masih merasa nikmat juga dengan menadahkan segala hal-ehwalnya serta membukakan segala rahasia hatinya kepada Allah yang dikasihiNya itu. Betapa tidak! Karena orang yang hatinya penuh kayakinan terhadap Allah Ta’ala akan merasa sesuatu perasaan tak terbalas di dalam sanubarinya di waktu bermunajat kepada Allah, maka tentulah ia akan merasa nikmat itu.
Contohnya yang semisal ialah orang yang berkhalwat dengn raja di waktu malam seraya menadahkan segala hajat dan keperluannya kepada raja itu, tentulah ia akan merasa gembira kerana dapat berdua-duaan bersamanya, dengan berharap pula akan mendapat pengurniaan daripada raja itu.

Ini adalah satu harapan kepada seorang raja yang akan memberinya karunia secara terbatas saja. Apalah lagi jika harapan itu ditujukan kepada Allah Ta’ala tentulah tiada terbatas sama sekali, karena apa yang diberikan oleh Allah itu lebih kekal dan lebih banyak manfaatnya daripada yang diberikan oleh manusia. Jadi bagaimana boleh dikatakan seseorang itu tidak akan merasa nikmat dengan menadahkan segala keperluannya kepada Allah di dalam khalwat dan munajatnya?