Apa Untungnya Memfitnah

Penaindonesia.co.id-Newnormal-Bismillah. Perjalanan hidup manusia tidak terlepas dari nafsu jahat yang selalu merasuk dalam diri mereka melalui berbagai celah disebabkan minimnya pengetahuan agama atau krisisnya nilai keimanan yang tertanam dalam jiwa mereka. Bahkan di era serba modern ini sulit rasanya mengatakan bahwa banyak dari manusia yang tidak paham nilai-nilai agama, justru sedikit banyak ada di antara mereka yang  mengetahui halal-haram, baik dan buruknya suatu tindakan, dan tidak dapat dipungkira bahwa semua umat Islam mengetahui fitnah adalah perbuatan keji yang sangat dibenci Allah.

Balasan memfitnah
Fitnah adalah perbuatan keji yang sangat dibenci oleh Allah. Dalam konteks Islam, fitnah adalah terjemahan dari an-Namimah. Fitnah merupakan usaha menyiarkan sesuatu berita tanpa dasar kebenaran, dengan tujuan untuk mencemarkan nama baik seseorang, menanamkan kebencian, menumbuhkan permusuhan serta memupuk kedengkian. Tujuan fitnah tersebut agar mudah untuk mencapai segala cita-cita para pelaku fitnah.

Perbuatan yang tercela seperti itu dilarang oleh Allah Swt dan orang yang membuat fitnah itu akan ditimpa azab yang amat pedih. Allah berfirman; “Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan fitnah kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang sangat pedih.” (QS. al-Buruj: 10).

Fitnah itu lebih besar dosanya daripada dosa membunuh (manusia tak bersalah), Allah berfirman: “Berbuat fitnah lebih besar dosanya daripada membunuh.” (Q.S. Al-Baqarah: 217). Fitnah adalah perkara yang sangat fatal, sebab dan akibat dari fitnah akan mengakibatkan jatuhnya korban yang sungguh dahsyat, bukan saja nama orang yang difitnah itu mendapat aib, tetapi fitnah mengakibatkan lenyapnya suatu bangsa, dengan fitnah manusia akan saling mencaci, memaki dan bunuh membunuh walau sesama Islam.

Sejarah Islam telah mencatat bukti otentik akibat fitnah yang terjadi tempo dulu, dimana tiga orang Khalifah Islam menjadi korban fitnah, seperti terbunuhnya Khalifah Umar ibnu Khattab, terbunuhnya Khalifah Usman bin Affan, terbunuhnya Khalifah Ali bin Abi Thalib dan juga zuriat (keturunan) Nabi Muhammad sendiri, yang dibunuh dengan sadis dan kejam oleh manusia-manusia yang gila akan kuasa, rakus akan jabatan.

Karenanya, sangatlah pantas para penebar gosip/pemfitnah mendapat berbagai kecaman dari sisi agama. Setidaknya, mereka yang suka menebar fitnah akan diancam: Pertama, sebagai manusia terburuk. Karena sering memburuk-burukan orang lain, maka penyebar fitnah diberi gelar oleh Rasulullah dengan seburuk-buruk manusia. Beliau bersabda: “Inginkah kalian aku beritahukan manusia terburuk diantara kalian?” Para sahabat menjawab, Ya. Beliau bersebda, yaitu orang-orang yang ke sana ke mari menyebar fitnah, yang memecah belah di antara orang yang saling mencintai dan meniupkan aib kepada orang-orang yang tidak berdosa/bersalah.” (HR. Ahmad).

Kedua, disiksa di alam kubur. Suatu ketika Rasulullah melewati dua kuburan, lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya keduanya saat ini sedang disiksa, dan keduanya tidak disiksa karena melakukan dosa besar. Adapun salah seorang dari keduanya, dulunya berjalan (kesana kemari) menebarkan fitnah. Sedangkan yang satunya tidak bersih selesai kencing.” (HR Bukhori dan muslim). Bagi kebanyakan orang, kedua perbuatan tersebut dianggap sepele, tetapi dapat membuat pelakunya sengsara dialam kubur.

Ketiga, tidak akan masuk surga. Sungguh merana dan sengsara sekali orang yang suka menyebar fitnah, gosip dan isu. Sebab, ia diharamkan menikmati berbagai macam kenikmatan abadi di surga kelak. Nabi saw bersabda: “Tidak akan masuk surga Nammaam (orang yang suka menyebar fitnah).” (HR. Bukhari dan Muslim).

 Tinggalkan fitnah
Allah Swt berfirman yang maksudnya: “Wahai orang yang beriman! Jauhilah dari kebanyakan sangkaan, karena sesungguhnya sebahgian daripada sangkaan itu adalah dosa, dan janganlah kamu mengintip atau mencari-cari kesalahan dan keaiban orang, dan janganlah kamu mengumpat setengah yang lain. Adakah seseorang kamu suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Sudah tentu kamu jijik kepadanya. (Oleh itu patuhilah larangan tersebut) dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha penerima taubat dan Maha penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 12). (R)

i