1 Syawal 1441 H, Momentum Meraih Kembali Kepercayaan Diri

PenaIndonesia.co.id-LawanCorona.Bismillahirrahmanirrahim.

هَلْ جَزَآءُ ٱلْإِحْسَٰنِ إِلَّا ٱلْإِحْسَٰنُ

“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” Surat Ar Rahman 55:60.

Saat untaian kata ini ditulis, umat muslim tengah berjihad mengendalikan berbagai dorongan nafsu dan keinginan dengan melakukan ibadah puasa. Dalam berbagai literature fiqh, puasa diartikan dengan al-imsãk anil muftirãt, yang berarti menahan  atau mengendalikan diri dari berbagai hal yang dapat  membatalkan puasa  seperti makan, minum dan berhubungan suami istri di siang hari. Pengertian ini lazim disebut dengan makna lughawi (Bahasa).

Akan tetapi secara luas makna puasa itu bukan hanya melakukan pengendalian diri dari hal-hal yang bersifat konsumtif jasmaniah, akan tetapi juga melakukan pengendalian diri dari dorongan-dorongan jiwa (nafsiyah) seperti pengendalian emosi, dendam dan permusuhan, iri hati dan dengki, dusta, buruk sangka, rakus, ujub dan takabur serta sederet latihan pengendalian diri selama berpuasa.

Orang yang mampu menahan lapar, haus, dan hubungan suami istri di siang hari karena berpuasa belum tentu dapat  menghantarkan seseorang memperoleh predikat taqwa,  karena predikat taqwa itu hanya bisa diperoleh jika seseorang mampu berpuasa  secara fisik dan juga mampu menguasai dirinya dari rongrongan dan dorongan nafsu yang dapat merusak kesucian dan citra diri di hadapan Tuhan.

Puasa adalah media yang paling sempurna untuk menetralisir dorongan-dorongan dua anasir tersebut. Meskipun kita seolah menggugat diri kita, apakah kita sudah mampu melaksanakan puasa dengan benar? Hanya diri kita yang tahu.

Jika saat Ramadhan kita mampu membangun kedekatan hubungan kita dengan Tuhan, maka ada secercah harapan yang muncul bagi kita untuk meraih rahmat, maghfirah, dan surga dariNya. Tetapi jika sekiranya  Ramadhan berlalu tanpa karya dan upaya mendekatkan diri kepada Tuhan, seolah sebuah sodoran investasi di depan mata tak mampu dimanfaatkan.

Puasa  mengisyaratkan dua kegembiraan. Kegembiraan saat berbuka puasa, waktu yang sangat dinantikan untuk melepas haus dan dahaga. Sesaat setelah berbuka puasa jasmani kembali bergairah,  energy tubuh kembali terisi dengan asupan makanan dan minuman saat berbuka. Hati dan jiwa pun bahagia karena berhasil melaksanakan puasa sehari penuh yang merupakan kewajiban bagi setiap muslim.

Kegembiraan berikutnya adalah munculnya rasa percaya diri yang tinggi di hadapan Tuhan. Karena Tuhan telah menjanjikan pahala yang besar tak terbatas bagi orang yang melakukan ibadah puasa dengan penuh keimanan dan kesungguhan. Perasaan gembira setelah menunaikan puasa Ramadhan karena kita meyakini Tuhan  telah mengampuni dosa dan kesalahan kita. Sehingga menurunkan  inperioritas diri kita di hadapan Tuhan dan selanjutnya menumbuhkan optimisme dan kegairahan dalam menjalankan hidup ini pasca Ramadhan.

Tiba saatnya akhir Ramadhan, kegembiran akan memasuki idul fitri tak dapat disembunyikan. Mulai anak-anak sampai dengan orang tua semua merasakan kegembiraan saat idul fitri. Momentum idul fitri menjadi festival besar umat muslim untuk saling berbagi kebahagiaan. Saat itu segala kebekuan hati dan keangkuhan jiwa menjadi cair menyebabkan seseorang senang menjadi pemaaf dan gemar meminta maaf atas berbagai khilaf dan kesalahan.

Malam takbiran pun tiba, gema takbir membahana memenuhi jagat alam semesta. Tak terasa air mata pun mulai tertumpah. Karena bulan agung yang penuh berkah dan menjadi perekat nilai-nilai kebersamaan pergi meninggalkan kita. Sampai keesokan hari saat shalat Idul Fitri dimulai, pesona takbir yang berkumandang  sejak malam sampai pagi hari sangat menyentuh dan membuat dada bergetar. Banyak orang yang bersedih haru dan tak kuasa menumpahkan air mata. Inilah suasana kebatinan umat beriman yang disatukan oleh Ramadhan dan disempurnakan dengan silaturrahim Idul Fitri.

Apa yang terjadi dan dialami sebagian besar umat muslimin saat bertakbiran memiliki makna spiritual yang dalam. Dalam lautan takbir Idul Fitri keharuan dan kesedihan pun datang disebabkan, pertama suasana takbiran membangkitkan daya ingat akan keutuhan sebuah keluarga. Betapa indahnya jika saat itu semua keluarga berkumpul, harmonis, dan penuh kebahagiaan. Namun  hari ini banyak orang yang merasakan kesedihan karena tak Nampak di tengah-tengah mereka ayah ibu tercinta, suami, istri dan anak-anak yang telah mendahului mereka menghadap ilahi. Suasana seperti ini juga memberikan kesadaran bahwa kelak dirinya akan kembali ke sisiNya. Sehingga setiap orang menjadi teringat akan keterbatasan yang ada pada dirinya. Terbatas masa keemasan, terbatas masa keperkasaan lalu akan datang masa akhir waktunya menghadap ilahi rabbi.

Kita boleh menangis dengan sebab atau alasan apapun saat rohani kita digetarkan oleh takbir yang dahsyat itu. Menangis karena ingat akan kekhilafan dan dosa kita yang banyak, menjadi pendorong kita untuk menghindari kekhilafan serupa di masa yang akan datang. Semua anak cucu adam tempatnya salah dan dosa. Tapi sebaik-baik pendosa adalah mereka  yang bertaubat.

Tuhan menggambarkan profil para pendosa sebagai orang yang tidak memiliki kepercayaan diri, tertunduk lesu di hadapan Tuhan pada hari kiamati. Mereka menyesal dan menangis minta dikembalikan ke dunia agar dapat berkarya baik dan menjadi orang saleh (QS.32, al-Sajadah: 12).

Itulah hari yang tidak berguna lagi segala ratap dan tangis. Hari itu adalah saat amal saleh membuat kita tersenyum percaya diri di hadapan Tuhan. Sebaliknya tangis penderitaan buat mereka yang tidak pernah menangis di hadapan  Tuhan sebelum datangnya hari ini.

Kesalahan dan dosa membuat noktah hiitam di hati dan membuat seseorang hilang kepercayaan dirinya. Namun Tuhan menurunkan syariat puasa  Ramadhan  untuk menghapus dosa dan kesalahan masa lalu dan seolah diri kita terisi energi baru (recharging) untuk  dapat melangkah penuh percaya diri meraih kemenangan dan masa depan yang gemilang.

Kepercayaan diri yang diraih setelah berpuasa Ramadhan menjadi modal berharga buat kita untuk terus melanjutkan kehidupan, menebarkan kebaikan dan prilaku yang penuh keteladanan. Semoga.

Segenab Pimpinan dan redaksi “Penaindonesia.co.id” Mengucapkan”

Selamat Merayakan Idul Fitri 1 Syawal 1441 H, mohon maaf zhãhiran wa bãthinan.